Cerita Biru dan Jingga Langitku

“Wow, langitnya cantik sekali!” Seruku tiap kali melihat keindahan langit. Baik itu langit biru cerah dengan awan-awannya maupun langit jingga yang mempesona. Tak jarang aku juga sering merekamnya lewat smartphone -ku

Langit biru dengan awan atau langit senja dengan jingganya keduanya sama-sama punya daya tarik yang memikat. Memikat setiap mata yang memandangnya. Melahirkan sebuah rasa kagum karena keindahannya. Dan keindahan itu seolah magnet yang menarik kita untuk terus memandangnya. Dekat, lekat dengan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Aku merupakan salah satu pengagum akan indahnya langit dengan biru dan jingganya itu. Tiap kali memandangnya tanpa terasa hati ini mengucap syukur pada Sang Kuasa telah menciptakan begitu banyak keindahan di Bumi ini untuk dinikmati dengan percuma.

Langit yang juga kita sebut dengan atmosfer ini diciptakan bukan hanya semata sebagai penghias yang mampu menghilangkan penat. Lebih dari itu, langit memiliki fungsi bagi kelangsungan hidup makhluk di Bumi termasuk pencegahan perubahan iklim.

Atmosfer merupakan lapisan gas yang menyelimuti planet.

Atmosfer Bumi memiliki peranan penting atas keberlangsungan hidup di Bumi. Berkat adanya atmosfer suhu di Bumi tetap hangat untuk kita tinggali. Atmosfer mengurangi rasa panas dari pancaran sinar matahari karena ia memantulkan sekitar 34% panas matahari kembali menuju angkasa. Sekitar 19% dari panas matahari itu diserap oleh atmosfer dan awan, kemudian sisanya 47% sampai ke permukaan Bumi. Berkat adanya atmosfer maka makhluk hidup di Bumi terbebas dari bahaya sinar ultraviolet. Tak hanya itu, atmosfer juga berperan sebagai media cuaca tempat terjadinya hujan, angin, awan, dan lain sebagainya.

Berkat atmosfer pula, kebutuhan makhluk hidup akan gas terpenuhi. Seperti oksigen untuk manusia dan hewan, atau karbondioksida bagi tumbuhan. Atmosfer menyediakan semuanya itu.

Dokumen pribadi Ruang berbagi kisah

Berangkat dari fakta tersebut, sudah seharusnya kita lebih intens memperhatikan serta menjaga atmosfer agar tetap bekerja sebagaimana seharusnya. Hari-hari ini suhu Bumi yang semakin panas menjadi bukti bahwa atmosfer bumi sedang tidak baik-baik saja.

Apakah suatu hari nanti kita tak lagi bisa menikmati indahnya biru dan jingganya sang langit?

Suhu bumi yang semakin panas merupakan tanda perubahan iklim yang semakin ganas. Kita harus mulai bergerak. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan menanam pohon dan menjaga hutan kita agar tetap berdaya. Sebab pohon dan hutanlah yang mampu menyerap gas polutan dari atmosfer. Semakin banyak pohon dan jumlah hutan maka akan semakin banyak gas polutan yang terserap.

Hal tersebut tentu saja membantu atmosfer menjadi lebih baik. Suhu bumi pun akan semakin membaik. Langit itu akan selalu membuat kita terpesona akan biru dan juga jingganya semuanya bergantung pada cara kita memperlakukan alam.

Aku jadi teringat sebuah lagu yang bertajuk “Dengar Alam Bernyanyi” Sebuah lagu yang dinyanyikan Laleilmanino bersama rekannya. Lagu ini dirilis 22 April 2022 dalam rangka menyambut hari Bumi sedunia. Lirik lagu ini membawa kita seolah berdialog dengan alam. Alam yang ingin kita peduli dan merawatnya kembali. Lagu yang mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa kitalah yang pegang kendali atas Bumi yang kita tinggali ini.

Bila kau ada waktu lihat aku disini
Hijau biru di bumi
Merintih ingin kau kembali
Beri cintamu lagi

Bila kau jaga aku ku jaga kau kembali
Berhentilah mengeluh ingat kau yang pegang kendali
Kau yang mampu obati
Sudikah kau kembali

Pandanglah indahnya biru yang menjingga
Simpanlah gawaimu hirup dunia
Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada
Dengar alam bernyanyi

Bila kau lelah
Dengan panasnya hari
Jagalah kami
Agar sejukmu kembali

Bersatulah hajar selimut polusi
Ingatlah hai wahai kau manusia
Tuhan menitipkan aku
Hoo Di genggam tanganmu

Pandanglah indahnya biru yang menjingga
Simpanlah gawaimu hirup dunia
Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada
Dengar alam bernyanyi

Aku berulang kali memutar lagu ini. Selain karena nada dan liriknya yang bagus, juga sebagai bentuk kontribusiku terhadap Bumi.

Kontribusi? Mungkin kalian bertanya-tanya. Mendengarkan lagu apakah bisa dikatakan sebagai kontribusi menjaga Bumi, apa hubungannya?

Jadi teman-teman, sebagian royalti dari pemutaran lagu ini akan disumbangkan untuk konservasi hutan adat kita yang ada di Kalimantan. Semakin banyak yang mendengarkan lagu ini maka semakin banyak dana yang akan disalurkan. Tunggu apa lagi? Ini merupakan kesempatan yang baik. Kapan lagi coba kita bisa menjaga kelestarian hutan tanpa harus ke hutan? Kita cukup memutar lagu ini sesering mungkin maka itu artinya kita sudah turut menjaga hutan dan peduli Bumi.

Teman-teman, kalian bisa mendengarkan lagu ini di platform musik kesayangan kalian. Jangan lupa ajak teman kita yang lainnya untuk mendengarkan lagu ini juga, ya, supaya semakin banyak dana yang nantinya akan tersalurkan.

Jangan lupa, ya. Kalian juga bisa membuat konten reels atau story di FB dengan menggunakan musik “dengar alam bernyanyi” sebagai backsoundnya supaya semakin banyak orang yang tahu tentang misi menjaga hutan sebagai upaya mengatasi perubahan iklim.

Ayo kita dukung misi ini demi biru dan jingganya langit dan demi mengatasi perubahan iklim yang dampaknya masih dan akan terus membayangi jika kita hanya berdiam diri.

Kalau kamu sudah ikutan, boleh tinggalkan jejak di sini, ya… sampai bersapa lagi di tulisan berikutnya.

Sadar Tradisi Lindungi Keanekaragaman Hayati

Ruangberbagikisah

“Hei! Lihat di sana ada kupu-kupu yang sangat cantik” seruku saat melihat kupu-kupu hinggap di bunga

“Iya, di sini juga ada” seru temanku juga

Memandangi kupu-kupu yang berterbangan di antara bunga yang berwarna-warni, berusaha menangkapnya lalu kemudian melepaskannya kembali merupakan kegiatan masa kecil yang sangat indah. Tak kujumpai kupu-kupu yang sama persis kala itu. Mereka terbang dengan keragaman namun dengan misi yang seragam.

Berkisah tentang kupu-kupu pasti kita akan teringat tentang proses daur hidupnya. Proses yang selalu dijadikan semangat bagi setiap insan dalam hidupnya bahwa untuk menjadi indah butuh proses dan itu pasti tidak mudah. Namun dibalik itu, tak cukup bagi kita untuk mengagumi kupu-kupu hanya dari sisi itu saja.  Tahukah teman-teman, kalau serangga yang satu ini selain membantu penyerbukan tanaman, ia juga berfungsi sebagai indikator udara bersih. Karena memiliki sifat tersebut, kupu-kupu menjadi salah satu serangga yang dapat dijadikan bioindikator terhadap perubahan ekologi. Semakin tinggi keragaman spesies kupu-kupu di suatu tempat, hal itu bisa menjadi tanda bahwa lingkungan tersebut masih baik.

Keragaman spesies kupu-kupu merupakan salah satu contoh dari melimpahnya keragaman hayati di negeri kita. Tahukah teman-teman bahwa Indonesia merupakan negara megabiodiversitas terbesar ketiga setelah Kongo dan Brazil? Akan tetapi masihkah keanekaragaman hayati itu tetap dijaga keberadaannya ditengah kecanggihan teknologi dan impian manusia yang menginginkan kelimpahan dari alam tanpa henti?

Tak dapat dielakkan bahwa keanekaragaman hayati yang kita miliki satu per satu mulai menghilang. Seperti kupu-kupu itu. Tak lagi aku menemukannya akhir-akhir ini. Hanya sekali itu aku melihatnya, saat seekor kupu-kupu besar berwarna cokelat memiliki bintik putih masuk ke rumah. Tak lagi kulihat kupu-kupu warna-warni yang mengitari bunga-bunga. Peristiwa ini mengajak ingatanku kembali ke masa kanak-kanak, mengenang indahnya berburu kupu-kupu di antara bunga-bunga yang bermekaran. Rindu adalah perasaan yang pertama kali muncul dalam diri ini.

Itu hanyalah salah satu contoh bahwa satu per satu di masa depan kita akan kehilangan spesies dari keanekaragaman hayati yang kita miliki. Kita hanya akan bisa mengenangnya dan takkan bisa mengembalikan waktu yang sudah terlewat. Padahal keanekaragaman hayati memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Keanekaragaman hayati (kehati) merupakan penunjang kehidupan. Dari padanyalah kita mendapatkan bahan-bahan alami untuk makanan, obat-obatan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, perairan, industri, sumber daya genetika, dan sebagainya.

Tak hanya itu, kehati juga berjasa bagi lingkungan hidup. Ia menyediakan sumber daya air, mengatur tata air tanah, menjaga dan melindungi kesuburan tanah, menyerap karbon, mengurai dan menyerap polusi udara, dan masih banyak jasa yang lain lagi. Berpedoman dengan peranan kehati bagi kehidupan manusia tersebut sudah seharusnya kita berupaya untuk menjaga dan melestarikannya. Karena kehati juga berjasa dalam hal menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dengan alam.

Sayangnya,  keanekaragaman hayati terancam hilang karena banyak sebab seperti hilang/berkurangnya habitat, invasi spesies asing, polusi, populasi manusia, dan perdagangan satwa. Jika kita amati penyebab ancaman tersebut semuanya merujuk pada aktivitas kita manusia. Karena kebijakan dan pola pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, sedikitnya jenis/varietas yang dibudidayakan, pertanian/perikanan memerlukan input tinggi (pupuk, pestisida, pakan) yang menyebabkan erosi genetic/plasma nuftah, dan pudarnya kearifan lokal.

Perubahan Iklim

Isu perubahan iklim sudah lagi tak asing bagi kita. Kegiatan manusia di bidang industri, transportasi, dan ekonomi menghasilkan emisi gas-gas karbon pencemar udara yang menumpuk di atmosfer. Konsentrasi gas-gas karbon tersebut menimbulkan proses radiasi sinar matahari yang dipantulkan kembali ke bumi dan menyebabkan suhu permukaan bumi semakin panas dan terjadi pemanasan global.

Tentu kita tahu bahwa pemanasan global menimbulkan penguapan tinggi sehingga memicu terjadinya banjir karena curah hujan yang tinggi. Selain itu, penguapan yang tinggi juga menyebabkan terjadinya kekeringan yang tentu saja akan mengganggu aktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan juga menimbulkan kebakaran hutan.

Kehati dan Perubahan Iklim

Perubahan iklim tentu saja memengaruhi kelangsungan hidup keanekaragaman hayati (kehati). Salah satunya adalah di bidang pertanian dan pangan. Setiap kenaikan suhu satu derajat Celcius suhu rata-rata maka akan terjadi penurunan 10% panen padi. Tak hanya itu, tangkapan ikan juga mengalami penurunan hingga 40% pada kawasan zona ekonomi eksklusif sebagai dampak ikan bergeser mencari iklim yang lebih sejuk, atau ikan mungkin mencoba untuk beradaptasi terhadap suhu yang hangat atau punah akibat perubahan iklim global.

Tradisi Menjaga Keanekaragaman Hayati

Nenek moyang kita sangat mencintai lingkungan. Hal ini terlihat dari adanya tradisi yang diwariskan sebagai cara untuk melestarikan lingkungan. Kepercayaan bahwa alam semesta adalah rumah dan telah memberikan kehidupan menjadi alasan bagi mereka untuk tetap menjaga kelestarian alam.

Salah satunya adalah tradisi mantari bondar yang dilakukan masyarakat Hatabosi, di Tapanuli. Tradisi ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga dan mengawasi sumber air serta Kawasan Hutan Cagar Alam Sibual-buali. Tidak hanya menjaga sumber air, masyarakat Hatabosi juga menjaga satwa-satwa yang dilindungi, seperti orangutan Sumatera yang merupakan hewan endemik di Kawasan tersebut.

Ada juga tradisi Bondang di desa Silo, Asahan, Sumatera Utara. Masyarakat di desa ini menerapkan tradisi upacara buka dan tutup bondang dalam aktivitas pertanian yang mereka lakukan. Dalam aktivitas pertanian, petani sama sekali tidak menggunakan zat-zat kimia maupun obat-obatan yang berdampak buruk bagi kesehatan dan merusak lingkungan. Kegiatan pengolahan lahan dari mulai masa tanam dan panen sepenuhnya dilakukan secara tradisional tanpa adanya bahan-bahan kimia. Dan masih banyak lagi tradisi yang ditanamkan para leluhur kita sebagai wujud kepedulian terhadap alam.

Manusia memiliki hubungan yang erat dengan alam. Akan tetapi interaksi kita dengan alam menciptakan kerusakan. Dan salah satu alternatif usaha yang bisa kita lakukan dalam pelestarian lingkungan adalah dengan menghidupkan kembali tradisi para leluhur kita. Dengan begitu kita berharap keanekaragaman hayati yang kita miliki tetaplah lestari. Perkembangan zaman janganlah membuat kita meninggalkan nilai-nilai yang telah berlaku turun-temurun. Karena itu dengan tradisi leluhur mari lestarikan alam untujk menjaga keutuhan keanekaragaman hayati kita.

Tradisi apa yang ada di daerahmu? Yuk, bagikan di kolom komentar, ya…

#Ecobloggersquad #EBS2021 #UntukmuBumiku #TeamUpForImpact

Kemasan Plastik dan Kecemasan di Masa Depan

Saat masih kecil dulu aku paling suka membongkar keranjang belanja mamak. Mengeluarkan satu per satu isinya hanya untuk menemukan makanan di sana. Biasanya ada mie goreng yang dibungkus daun pisang, seloyang martabak kacang yang dibalut dengan kertas koran, dan juga sebungkus buah jeruk atau juga terkadang buah salak. Mataku berbinar saat melihat makanan itu berada di dalam keranjang mamak dan hatiku pun riang.

Saat mengenang masa itu dan membandingkannya dengan masa sekarang aku melihat ada yang berbeda. Kalau dahulu mie goreng itu dibungkus dengan daun pisang kini dikemas dalam kemasan berbahan plastik. Begitupun dengan martabak kacang.

Posisi daun pisang, koran, dan kawan-kawannya sebagai pembungkus makanan mulai bergeser. Dan hal itu berawal dari penemuan seorang ilmuwan yang bernama Alexander Parkes. Kemudian penemuan Parkes tersebut dilanjutkan oleh Jhon Wesley Hyat pada tahun 1866. Dan pada tahun 1097 plastik sintetis ditemukan oleh Leo Hendrik Baekeland. Ilmuwan asal New York ini terus bereksperimen terhadap penemuannya. Sehingga pada tahun 1929 ditemukanlah polystyrene.

Penemuan para ilmuwan itu terus dikembangkan generasi berikutnya sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Kemasan plastik diproduksi beragam dan dibentuk semenarik mungkin untuk mengemas berbagai produk salah satunya adalah makanan atau minuman.

Makanan atau minuman dalam kemasan memang sangat praktis. Sebab kita tak perlu repot-repot, kalau sudah habis dinikmati ya tinggal dibuang saja. Sesederhana itu.

Namun bagaimana dampaknya terhadap lingkungan? Ternyata tidak sesederhana itu, teman.

Di zaman modern sekarang ini berkat kecanggihan teknologi plastik yang kita gunakan itu terbuat dari hasil turunan minyak bumi dan gas yang disebut dengan Nafta. Kemudian Nafta tersebut diolah untuk menjadi resin plastik. Proses pengolahan Nafta menjadi resin plastik menghasilkan emisi karbon ke atmosfer sebesar 1.781 million metric ton CO2.

Lalu resin plastik dikirim ke tempat pengolahan, misalnya tempat pembuatan botol plastik. Untuk memproduksi botol plastik memerlukan suhu tinggi yang didapat dari pembakaran batu bara. Proses produksi ini menghasilkan emisi karbon sebesar 535 juta metric ton CO2.

Lalu botol plastik itu sampai ditangan kita dan biasanya digunakan hanya beberapa kali saja. Botol plastik tersebut berakhir di TPA. Kemudian kemasan plastik tersebut didaur ulang atau dibakar.

Akan tetapi tidak semua jenis plastik bisa di daur ulang, karena sering kali akhirnya dibakar. Padahal pembakaran plastik memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Pasalnya saat membakar plastik kita menghasilkan emisi karbon hingga 5,9 juta Metric ton CO2.

Mari sebentar kita mengintip fakta jumlah sampah yang ada di negara kita.

Faktanya di sepanjang tahun 2021 sampah di Indonesia itu mencapai 68,5 juta ton sampah dan sekitar 11, 6 juta ton diantaranya berasal dari sampah plastik. Ini artinya penggunaan plastik di negeri kita sangatlah tinggi. Padahal seperti yang dijelaskan di atas, sejak dari proses produksi hingga berakhir di tempat pembuangan akhir, sampah plastik menghasilkan banyak emisi karbon.

Kemasan berbahan plastik memang sangatlah ekonomis dan juga praktis. Di sisi lain kemasan plastik justru membawa kecemasan berkepanjangan di masa depan jika kita tidak aware dari sekarang. Sebab semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan maka semakin tinggi pula konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Ini tentu berdampak negatif bagi kelangsungan bumi dan penghuninya. Akan muncul masalah-masalah yang membuat kita dilingkupi kecemasan, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, masalah kebutuhan pangan yang berujung pada kelaparan, dan rusaknya ekosistem laut.

Mulai dari sekarang marilah kita bersama-sama melakukan upaya untuk menjaga bumi yang kita huni ini. Tidak perlu menunggu untuk melakukan hal yang besar. Kita mulai dari hal yang kecil dan sederhana.

Apa yang bisa kita lakukan?

Ruangberbagikisah

1. Ganti kantong plastik belanjamu dengan Tote bag atau keranjang belanjaan yang bisa digunakan berulang serta ramah lingkungan.

2. Mulailah membawa tempat makan dan botol minum sendiri ketika jajan, saat ke sekolah, kuliah, bekerja, maupun berpergian.

3. Batasi pemakaian produk yang dikemas dalam kemasan plastik. Terdengar mudah namun ini hal yang cukup sulit karena hampir semua produk dikemas dengan plastik. Jika di daerahmu sudah ada layanan isi ulang untuk deterjen atau sampo misalnya, itu bisa menjadi salah satu trik mengurangi sampah plastik.

4. Bergabunglah untuk berkampanye melakukan hal sederhana untuk menjaga bumi.

Senin lalu aku ikut kampanye di websitenya team up for impact. Aku juga mengajak siswaku untuk ikutan. Kami memilih kampanye untuk tidak membeli minuman dalam kemasan dan memilih untuk membawa tumbler ke sekolah. Selain lebih sehat kami juga berupaya untuk mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah. Sederhana, bukan?

Aku mengajak kalian agar ikutan. Sebab kita butuh aksi agar bumi ini tetap lestari. Ada tujuh pilihan aksi kecil yang bisa kamu lakukan sebagai upaya menjaga bumi ini. Klik link ini ya untuk ikutan https://teamupforimpact.org/team-up-everyday karena masalah ini akan segera teratasi jika kita melakukannya serentak. Bumi memberikan banyak hal saatnya giliran kita.

Semoga artikel ini bermanfaat 😊 #EcoBloggerSquad #EBS2021

Referensi: https://zerowaste.id/knowledge/bagaimana-plastik-berpengaruh-pada-perubahan-iklim/

BBN : Secercah Harapan Untuk Bumi

Dokumen Pribadi

Saat masih kecil dulu, ibuku memasak di tataring menggunakan kayu bakar. Dan sudah menjadi tugas bapak untuk memastikan ketersediaan kayu bakar di rumah agar waktu memasak ibu tidak terkendala.

Lalu zaman berubah dan muncullah kompor minyak. Kehadiran kompor minyak menggeser posisi kayu bakar saat itu. Ibu pun tak lagi memasak di tataring. Berkat kompor minyak, ibu kini memasak di dapur.

Lalu minyak tanah yang digunakan untuk menyalakan kompor langka. Sulitnya mendapatkan minyak tanah membuat ibu-ibu sempat berbalik menggunakan kayu bakar. Saya masih ingat dulu harus mengantri berjam-jam lamanya untuk mendapatkan minyak tanah.

Ketenaran kompor minyak pun berlalu. Muncul yang namanya kompor gas. Awal-awal diperkenalkan dengan kompor ini, banyak ibu-ibu yang enggan menggunakannya karena mereka khawatir kompornya meledak. Termasuk ibu saya. Karena memang pada saat itu ada banyak berita yang mengabarkan tentang peristiwa kebakaran karena tabung gas yang meledak. Sampai akhirnya karena mendengar bahwa memasak dengan kompor gas lebih mudah maka sampai saat ini kita memasak menggunakan kompor gas.

Perubahan yang sama juga dengan bahan bakar yang lainnya. Termasuk bahan bakar untuk kendaraan. Sebelum mobilitas kita semudah seperti sekarang ini, dahulu kita bepergian dengan berjalan kaki atau sudah paling mantap dengan bersepeda. Tapi zaman yang berubah membantu kita bergerak dengan lebih cepat dan luas. Dengan hadirnya alat-alat transportasi, seperti sepeda motor, mobil, bus, kereta api, kapal laut, pesawat, dan yang lainnya.

Kemudahan yang kita dapat ternyata semakin lama membawa dampak buruk bagi kelestarian lingkungan alam kita. Semisal contoh kecilnya saja, kalau dahulu mobilitas kita hanya didukung dengan sepeda (yang tanpa bahan bakar) udara terasa sangat sejuk. Tapi berbeda setelah kita mengenal sepeda motor (yang dengan bahan bakar) kesejukan itu berubah menjadi polutan.

Tentu kita sudah tahu bahwa proses untuk menghasilkan bahan bakar menyumbangkan emisi gas karbon. Ditambah lagi dengan polusi dari kendaraan yang kita gunakan sehari-hari. Akibatnya bumi ini semakin hari semakin panas.

Untuk mengurangi emisi karbon dan impor bahan bakar fosil, pemerintah Indonesia akhirnya membuat sebuah kebijakan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN).

Apa itu Bahan Bakar Nabati?

BBN merupakan bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan nabati dan/atau dihasilkan dari bahan-bahan organik lain yang ditataniagakan sebagai bahan bakar lain.

(Permen ESDM 25 tahun 2013)

BBN sendiri diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Bioetanol yang merupakan alkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum, tebu, ataupun jagung.
  2. Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak kedelai, minyak buah jarak, juga minyak bunga matahari.
  3. Biogas merupakan bahan bakar yang berasal dari hasil fermentasi sampah tumbuhan atau kotoran hewan.

Kebijakan untuk beralih ke energi terbarukan merupakan kebijakan pemerintah yang sudah mulai berjalan walau pergerakannya masih terbilang lambat. Dan sumber energi alternatif terbarukan di Indonesia sendiri terbuat dari minyak kelapa sawit. Hal ini mengundang tanya ‘Apakah BBN ini Untuk Keamanan Energi atau Komitmen Iklim?’

Jika BBN di Indonesia kebanyakan terbuat dari bahan minyak sawit mentah maka akan dikhawatirkan banyaknya lahan baru dibuka untuk memastikan ketersediaan bahan bakunya.

Untuk memenuhi target 5% kontribusi BBN terhadap campuran bauran energi nasional pada tahun 2025, maka terdapat potensi kebutuhan lahan seluas 5,15 juta Ha lahan.

(Rahmadi, Arie, Aye.Lu, Moore Graham, 2013)

Bahkan Koaksi mengungkapkan akan dibutuhkan lahan sawit baru seluas 3,78 juta Ha untuk melakukan skenario B100 pada tahun 2025.

Jika demikian maka kebijakan BBN alih-alih menekan gas emisi rumah kaca malah sebaliknya akan semakin memperburuk keadaan. Sebab faktanya sektor FOLU (Forestry and Other Land Use) merupakan penyumbang emisi terbesar di Indonesia dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit adalah faktor utamanya.

Adakah titik terang yang bisa didapatkan?

Untuk mengantisipasi adanya alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit lagi maka setidaknya ada 2 (dua) hal berikut yang bisa dilakukan.

1. Melibatkan Pekebun Sawit Mandiri

Jika pekebun sawit mandiri terlibat menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku biodiesel maka setidaknya ada 4 (empat) hal yang bisa didapatkan:

  • Lahan : Petani sawit mandiri menguasai 40% dari total luas lahan kelapa sawit di Indonesia.
  • Membantu perekonomian rakyat kecil : hal ini akan membantu perekonomian rakyat kecil dan meningkatkan kesejahteraan karena petani sawit mandiri ikut dilibatkan.
  • Menghindari deforestasi : dengan terlibatnya petani sawit mandiri maka akan mengurangi resiko deforestasi dan turut menjaga keberadaan hutan yang tersisa.
  • Mengurangi emisi GHG : karena menggunakan TBS kelapa sawit dari lahan petani sawit mandiri maka akan mengurangi emisi dari keseluruhan daur produksi biodiesel.

2. Memanfaatkan Minyak Jelantah

Di Hawai, biodiesel terbuat dari minyak goreng bekas, sedangkan kalau di Jepang minyak bekas dari restoran dikumpulkan dan dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat biodiesel. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita menggunakan bahan minyak sawit mentah seperti yang sudah dipaparkan di atas. Tentu saja kita bisa belajar dari negara-negara tersebut yaitu dengan memanfaatkan minyak jelantah.

Dokumen Pribadi

Di Indonesia konsumsi minyak goreng (2019) mencapai 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter. Berdasarkan angka ini jika diolah maka akan berpotensi menjadi biodiesel 3,24 juta kilo liter. Sementara jumlah minyak jelantah yang dikumpulkan di Indonesia (2019) hanya 3 juta kilo liter. 1,6 juta kilo liter berasal dari rumah tangga perkotaan besar (2019). Dan dari sekitar 3 juta KL minyak jelantah, hanya kurang dari 570 ribu KL yang dimanfaatkan sebagai biodiesel. Selebihnya digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan juga untuk diekspor.

Mulai saat ini, yuk kumpulkan minyak jelantah di rumah dan jadikan tambahan uang belanja atau uang jajan. Hehehe… Karena di beberapa kota sudah ada agen yang menerima minyak jelantah. Tapi pastikan bahwa kamu menjual kepada oknum yang bertanggung jawab sehingga minyak jelantah tidak disalahgunakan untuk hal yang berbahaya.

Lalu, seberapa efektif BBN ini menekan emisi GRK?

Jika dibandingkan dengan solar biasa, biodiesel kelapa sawit dapat memperbaiki emisi HC sebesar 20%, karbon monoksida (CO) 25%, dan particulate matter (PM) sebesar 43% untuk skenario B100.

Namun kebijakan BBN tidak serta merta dikatakan selaras dengan komitmen iklim hanya karena dilihat dari sisi kalau ternyata BBN menghasilkan lebih banyak atau sedikit emisi. Keselarasan BBN dengan komitmen iklim terwujud jika PT Pertamina sebagai BUMN pelaksana mandatori biodiesel berperan aktif dengan mewajibkan pemasoknya memiliki sertifikasi berkelanjutan.

Bagaimana menurutmu sobat Rubegi? Yuk kita dukung Indonesia beralih ke BBN! GRK teratasi, hutan tetap lestari.

#EcoBloggerSquad #EBS2021

Bergerak Kurangi Jejak Karbon

Sehari panas, sehari hujan. Begitulah kondisi cuaca akhir-akhir ini. Belakangan semakin tidak menentu. Sulit diprediksi.

Apa yang terjadi? Something wrong?

Masih segar diingatan sewaktu sekolah dulu saat guru IPS menjelaskan tentang pelajaran topik musim di Indonesia.

“Jadi, kalau bulan berakhiran ber ber sudah pasti musim penghujan. Jadi siapkanlah ember kalian untuk menampung air hujan. Seperti bulan September, Oktober, November, dan Desember.” Terang guruku kala itu. Sampai sekarang hal itu lekat sekali diingatanku.

Namun, masih relevankah hal itu hingga sekarang? Aku rasa tidak.

Sekarang cuaca sukar ditebak. Sehari hujan, kemudian sehari panas. Bahkan pagi hari cerah, lalu tiba-tiba turun hujan. Sungguh cuaca sekarang tidak menentu. Panasnya juga bukan main! Hujannya juga tidak tanggung-tanggung sampai menimbulkan kebanjiran di beberapa daerah belakangan ini.

Cuaca yang tidak menentu ini merupakan kode merah dari suhu bumi yang semakin panas. Kita biasa menyebutnya dengan pemanasan global.

Kita pasti sudah tidak asing dengan istilah pemanasan global. Sejak dulu istilah ini sering kita dengar dan hingga kini masih terus digaungkan. Mengapa? Karena dampaknya sudah mulai terasa dan ini merupakan kode merah bagi manusia.

Pemanasan global merupakan kondisi dimana suhu rata-rata di atmosfer semakin meningkat. Penyebab semakin meningkatnya suhu di atmosfer ternyata disebabkan oleh kegiatan manusia seperti penebangan hutan, kegiatan industri, pembakaran lahan, dan ada kegiatan sehari-hari yang mungkin tanpa kita sadari bahwa selama ini kita melakukan kegiatan yang ternyata turut menyumbang emisi gas rumah kaca. Kegiatan sehari-hari yang meninggalkan jejak karbon. Apa sajakah itu? Yuk kita bahas di sini.

1. Sisa Makanan

Siapa di sini yang makanannya sering bersisa? Terus kalau lihat makanan enak langsung lupa diri dan ambil sebanyak-banyaknya tapi gak dihabiskan? Kalau orang tua Batak bilangnya pamangan mago (Maaf jika penulisannya salah). Sayakah itu? Yuk mengaku di sini😁.

Ternyata sisa makanan merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Sisa makanan mengandung gas metana yang merupakan penyebab efek rumah kaca.

Nah, perihal sampah makanan (food waste), mengutip dari kumparan.com bahwa berdasarkan laporan food sustainable index (FSI) 2016 menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan kedua sebagai negara yang paling banyak membuang makanan dan menjadi sampah (food waste) terbesar kedua setelah Saudi Arabia.

Jika kebiasaan membuang makanan terus berlanjut maka akan semakin banyak gas metana yang kemudian memicu suhu bumi semakin panas.

Food loss terjadi bukan hanya saat kita mengonsumsi makanan, melainkan saat prosesnya dimulai pun sudah terjadi food loss. Bahan makanan sebelum sampai ke tangan kita mengalami proses seleksi. Ada yang tidak layak konsumsi, salah potong, dan puncaknya adalah saat terhidang di hadapan kita yaitu sisa makanan di piring kita. Bahkan untuk pendistribusian bahan makanan tersebut membutuhkan bahan bakar yang juga menghasilkan emisi gas rumah kaca.

2. Penggunaan Plastik

Saat berbelanja, baik itu di pasar, di swalayan, supermarket, minimarket, pasti kita menggunakan plastik. Ya, hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Dan pasti kita sudah tahu bahwa plastik merupakan salah satu emisi gas rumah kaca. Mengapa? Karena plastik terbuat dari minyak bumi. Dan dalam proses pembuatannya minyak bumi akan diubah menjadi molekul kecil yang disebut dengan monomer dengan cara dibakar.

Kemudian selesai digunakan plastik akan menjadi sampah dan berakhir di TPA. Plastik sangat sulit terurai dalam tanah sehingga dapat mencemari tanah, air, dan juga udara karena pada akhirnya berujung pada proses pembakaran dan menjadi emisi gas rumah kaca.

3. Pemakaian Listrik

Kegiatan rumah tangga sekarang menjadi lebih mudah dengan canggihnya teknologi. Namun ternyata kemudahan yang kita dapatkan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup lingkungan. Salah satu contohnya adalah penggunaan mesin pengering. Dengan selalu menggunakan mesin pengering pakaian saat mencuci maka artinya penggunaan energi listrik pun semakin besar.

4. Fashion

Yang tidak ingin ketinggalan mode pakaian terbaru? Yuk angkat tangannya ✋. Hehehe.

Salahkah kebiasaanku mengikuti mode pakaian terbaru? 🤔 Teman, jika bicara soal kemampuan membeli mungkin tidak salah. Tetapi jika bicara tentang perubahan iklim, sebaiknya kebiasaan ini harus kita ubah.

Fast fashion. Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, kan? Fast fashion adalah sebuah industri pakaian yang selalu mengeluarkan mode pakaian terbaru setiap minggunya. Biasanya harganya sangat murah. Namun, industri ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan lingkungan karena industri ini menghasilkan mikrofiber yaitu 50 miliar plastik per tahun. Pembuatan untuk satu kaos katun saja bisa menghabiskan 2.700 liter air yang sama dengan air minum untuk satu orang selama 2,5 tahun. Tidak sampai di situ saja, industri pakaian cepat ini juga menghasilkan emisi 1.715 juta ton karbondioksida per tahun (dikutip dari katadata.co.id). Jika produk dari fast fashion banyak diminati oleh masyarakat maka dapat kita bayangkan bagaimana industri ini menyumbang emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Masih ada banyak kegiatan manusia yang menyumbang emisi gas rumah kaca termasuk juga pertanian dan peternakan. Jadi bukan hanya deforestasi hutan atau pembakaran lahan, penggunaan pupuk dan juga kotoran ternak ternyata turut menyumbang emisi gas metana ke atmosfer.

Jika kegiatan tersebut tidak kita perhatikan dan tanggapi secara serius, apa dampaknya bagi kehidupan manusia selanjutnya?

Mungkin itu pertanyaan yang terbersit dalam benak kita. Oke, yuk kita bahas dampak yang akan timbul jika kita abai terhadap kode merah ini.

Pada hari Jum’at lalu, aku berdiskusi dengan EBS bersama yayasan Madani mengenai suhu bumi yang semakin panas. Ini sudah pasti merujuk pada perubahan iklim. Tetapi perubahan iklim tidak hanya berbicara tentang naiknya suhu bumi, namun juga tentang akibat yang akan timbul saat suhu bumi tersebut kian naik. Yakni berubahnya sistem iklim. Perubahan sistem iklim ini mempengaruhi alam dan tentunya kehidupan manusia.

Suhu bumi yang semakin panas akan menyebabkan mencairnya gletser dan berpengaruh terhadap naiknya permukaan laut dan akan menenggelamkan banyak pulau termasuk pulau-pulau di Indonesia. Selain itu akan terjadi banjir dan kekeringan, dan pola curah hujan yang tidak menentu yang berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas air bersih.

Berikut ini adalah fenomena – fenomena perubahan iklim yang terjadi di Indonesia yang dilansir dari ditjenppi.menlhk.go.id.

Jika para petani selalu mengalami kegagalan panen karena perubahan iklim yang ekstrim, maka akan dikhawatirkan ketahanan pangan nasional saat ini dan kedepannya. Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Yuk mulai kurangi jejak karbon dengan 4 gerakan menyalakan lampu merah :

1. Lampu Merah Menyisakan Makanan

Mulai sekarang nyalakan lampu merah dalam hal makanan. Beli seperlunya, ambil secukupnya, makan tak bersisa. Sehingga tidak ada sampah makanan dimanapun kita berada. Baik itu di rumah, maupun di restoran. Lampu merah makan bukan berarti berhenti makan, ya. Heheh

2. Lampu Merah Penggunaan Plastik

Bawa kantong sendiri saat berbelanja, bawa botol minum dan makanan saat keluar rumah. Hal sederhana ini membantu mengurangi pemakaian kantong plastik, kan?

3. Lampu Merah Penggunaan Pengering Pakaian

Alih-alih menggunakan mesin pengering pakaian, yuk jemur kain dengan memanfaatkan sinar matahari. Dengan melakukan ini artinya kita sudah turut mengurangi emisi gas rumah kaca. Kalau kita semua melakukan hal ini, kebayangkan sudah berapa daya energi listrik yang tersimpan untuk esok hari?

4. Lampu Merah Membeli Pakaian

Jika untuk kelestarian lingkungan, aku yakin kalian pasti setuju untuk berhemat dalam hal ini. Fast fashion berpengaruh buruk terhadap lingkungan. Mulai sekarang ayo kita kurangi membeli pakaian baru, pilih pakaian yang bahannya katun organik, dan hindari membeli pakaian yang berbahan Polyester dan nilon. Dengan cara ini kita bisa turut ambil bagian dalam isu perubahan iklim yang semakin ekstrim.

Perlu kita sadari bersama, bahwa isu perubahan iklim ini dapat teratasi jika kita bersama. Yuk bersama menjaga bumi agar tetap sehat dan lestari. Mulai dari diri sendiri dulu dan yakinlah kebiasaan baik akan menular dan menjaring orang lain di sekitar kita.

Semangat untuk menjaga bumi muda mudi Indonesia 😊

#MudaMudiIndonesia #UntukmuBumiku #ActionTimeforIndonesia

#EcoBloggerSquad #EBS2021

Mencintai Tidak Harus Karena Memiliki

Dokpri : ruangberbagikisah

Juli 2019 saya memutuskan untuk merantau ke kota Pekanbaru, Riau. Tak berapa lama di sana, bencana kabut asap menyapa. Pekerjaan terkendala dan asap menyesakkan dada.

“Tidak usah heran, ini merupakan bencana tahunan di Riau.” Ujar salah seorang rekan kerja waktu saya mengutarakan kekhawatiran saat menyaksikan kabut asap yang semakin hari semakin menebal. Bahkan matahari pun tak lagi terlihat.

Ya, Riau merupakan salah satu provinsi titik api terjadinya karhutla. Bencana kabut asap terjadi setiap tahun di provinsi ini. Lucunya, meski terjadi tiap tahun namun ternyata tak cukup bagi pemegang kebijakan untuk mengkaji lebih jauh dan menemukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Peristiwa ini terus terjadi secara berulang tanpa adanya solusi yang tepat. Luas hutan di Indonesia dari waktu ke waktu terus berkurang.

Kita pasti sepakat bahwa Indonesia merupakan negeri yang kaya. Karena itu Indonesia dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa. Berlimpah kekayaan yang diumpamakan dengan batu zamrud dan berada di garis ekuator khatulistiwa.

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil (Wikipedia.org). Tingginya tingkat biodiversitas Indonesia ditunjukkan dengan adanya 10% tanaman berbunga yang terkenal di dunia terdapat juga di Indonesia, 12% dari hewan mamalia, 16% reptil, 17% burung, 18% dari jenis terumbu karang, dan 25% dari hewan laut.

Indonesia terkenal akan flora dan faunanya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu kelestarian flora dan fauna diperhadapkan dengan ancaman kepunahan. Kekayaan negeri ini berhasil membesarkan kecintaan dalam diri manusia berbalutkan keegoisan dan ketamakan.

Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 6 Agustus, saya mengikuti blogger gathering bertajuk ‘Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia’ bersama #EcoBloggerSquad #EBS2021.

Gathering bersama EBS

Di sini aku mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai lahan gambut. Lahan yang dianggap sebagai lahan terbuang ini ternyata memiliki peranan penting untuk mendukung kelangsungan hidup di Bumi, termasuk kelangsungan hidup flora dan fauna yang habitatnya di lahan gambut. Mari kita lebih dekat dengan lahan gambut.

Apa itu Lahan Gambut?

Pantaugambut.id

Gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa – sisa pohon, rerumputan dan lumut, juga jasad hewan yang membusuk. Timbunan ini menumpuk hingga ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Umumnya gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir. Ciri gambut yang ideal adalah basah dan mengandung banyak karbon di bawahnya. Lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan mineral yang ada di seluruh dunia. Itulah mengapa jika lahan gambut terganggu maka karbon yang terkandung didalamnya akan terlepas dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca.

Ciri – ciri Lahan Gambut

Tanah gambut dengan tanah mineral memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakteristik ini ditinjau dari sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Oleh karenanya, pengelolaan tanaman di atas tanah gambut berbeda dengan tanah mineral.

Ada empat jenis gambut berdasarkan tingkat kedalaman :

  • 50 – 100 cm merupakan gambut dangkal
  • 100 – 200 cm merupakan gambut sedang
  • 200 – 300 cm merupakan gambut dalam
  • +300 cm merupakan gambut sangat dalam

Tingkat kedalaman ini menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang dapat hidup di ekosistem tersebut. Dan artinya, semakin dalam gambut, semakin banyak karbon yang terkandung.

Dan ternyata teman-teman, luas lahan gambut di Indonesia merupakan yang terbesar keempat di dunia dengan luas 15 sampai 20 juta hektare, dan merupakan lahan gambut tropis terluas kedua dunia setelah Brazil.

Wow 😍

pantaugambut.id

Dan dari 258.650 spesies pohon tinggi yang tercatat di dunia, 13% – 15% terdapat di lahan gambut Indonesia, yaitu 35 – 40 ribu spesies pohon tinggi. Lahan gambut Indonesia mampu menyimpan setidaknya 53 – 60 miliar ton karbon sehingga lahan gambut Indonesia bernilai penting bagi dunia. Surga lahan gambut Indonesia hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon.

Akan tetapi, luas lahan gambut di Indonesia belum dapat dipastikan. Pada tahun 1992, Pusat Penelitian Tanah Bogor menemukan bahwa terdapat sekitar 15,4 juta hektare lahan gambut di Indonesia. Sementara pada tahun 2005, Wetlands International memperkirakan terdapat sekitar 20,6 juta hektare. Lalu pada tahun 2011, Balai Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dan Balai Penelitian Tanah memperkirakan ada sekitar 14,9 juta hektare lahan gambut di Indonesia. Dari data ini maka diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia sekitar 15 hingga 20 juta hektare. Akan tetapi teman-teman, faktanya lahan gambut kita saat ini tengah terancam.

Tahun 2019, luas lahan gambut Indonesia sebesar 13,43 juta hektare. Turun 1,5 juta hektare dibandingkan luas pada tahun 2011 yaitu 14,93 juta hektare. Apa yang terjadi?

Di dalam pemikiran masyarakat, lahan gambut seringkali dianggap sebagai lahan terbuang yang dapat dikeringkan dan dialihfungsikan. Anggapan inilah yang menjadi salah satu penyebab utama degradasi dan alih fungsi lahan gambut. Apalagi semakin hari lahan mineral semakin terbatas ketersediaannya. Akhirnya demi kepentingan pertanian, perkebunan, lahan gambut dikeringkan secara berulang dan terus menerus untuk mencegah air kembali membanjiri gambut. Siklus surutnya dan pengeringan gambut yang dilakukan secara terus menerus menjadi sumber emisi karbon yang tidak akan berhenti. Padahal lahan gambut memiliki peranan penting dalam menjaga Bumi.

Peran Penting Lahan Gambut

1. Mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau

Lahan gambut diumpamakan seperti spons yang mampu menyerap air lebih banyak saat banjir melanda. Gambut mampu menampung air sebesar 450 hingga 850 persen dari bobot keringnya. Lahan gambut juga mampu menahan air dua hingga enam kali lipat berat keringnya. Dan pada saat kemarau tiba, lahan gambut berfungsi sebagai penyedia persediaan air di dalam tanah.

2. Menunjang perekonomian masyarakat lokal

Ada berbagai jenis tanaman dan hewan yang habitatnya di lahan gambut. Tanaman dan hewan ini dapat menjadi sumber pangan dan mendukung perekonomian masyarakat di sekitar lahan gambut.

3. Merupakan Habitat Untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Indonesia terkenal kaya akan flora dan fauna. Dan salah satu habitat flora dan fauna adalah lahan gambut. Di dalam lahan gambut Indonesia terdapat 35 spesies mamalia, 150 spesies burung dan 34 spesies ikan. Beberapa fauna didalamnya merupakan spesies endemik dan dilindungi International Union for Conservation of Nature ( IUNC) yang masuk ke dalam Red List IUNC, seperti buaya senyulang, langur, orang Utan, harimau Sumatera, berubah madu, dan macam dahan.

Mengapa ini bisa terjadi?

Teman-teman, negara kita berada di urutan kedua tercepat dalam laju kepunahan dunia setelah Meksiko. Indonesia juga merupakan negara tertinggi keempat dunia dalam hal penyelundupan satwa liar setelah human trafficking, weapon trafficking, dan drugs trafficking.

Selain itu, ancaman kepunahan satwa di lahan gambut adalah karena alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian, perkebunan, permukiman, dan juga sebagai tempat wisata.

Lahan gambut sengaja dikeringkan untuk dijadikan perkebunan (pantaugambut.id)

Akibatnya satwa kehilangan habitatnya dan biasanya alih fungsi lahan gambut itu dilakukan dengan cara dibakar. Hal tersebut menyebabkan beberapa hewan terjebak dan tewas terbakar karena tidak sempat menyelamatkan diri. Satwa yang berhasil selamat akhirnya mencari habitat baru yaitu permukiman manusia dan berujung konflik dengan manusia.

4. Lahan Gambut Menjaga Perubahan Iklim

Gambut menyimpan cadangan karbon yang besar. Perlu untuk kita ketahui bersama bahwa lahan gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dari hutan yang ada di seluruh dunia. Itulah sebabnya, ketika lahan gambut terganggu, dikeringkan atau mengalami alih fungsi, simpanan karbon di dalam gambut tersebut akan terlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca. Hal inilah yang akan mempercepat peningkatan suhu Bumi yang berakibat pada perubahan iklim.

Teman-teman, perubahan iklim, alih fungsi hutan, hilangnya habitat juga akan berdampak pada penurunan spesies satwa endemik negeri kita. Kita semua tentu tidak bersedia jika suatu hari di masa depan generasi kita hanya bisa mengenang kekayaan hayati negeri ini lewat foto dan video saja.

Berkunjung ke Siantar Zoo

Foto di atas adalah kenangan tahun 2018 saat saya mengunjungi kebun binatang Siantar Zoo di kota Pematangsiantar. Bukankah sangat menyedihkan jika suatu hari di masa depan generasi kita mengenal jerapah hanya lewat patung buatan tangan manusia?

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Yaitu dengan cara melindungi yang masih tersisa dan memulihkan yang rusak dengan cara merestorasi lahan gambut.

Lahan gambut merupakan masa depan kita bersama walau bukan milik kita pribadi secara utuh. Meski demikian, menjaganya adalah tugas kita bersama. Jika lahan gambut terganggu maka berbagai bencana akan mengikutinya, seperti :

  1. Banjir
  2. Kebakaran
  3. Kabut asap
  4. Pencemaran tanah
  5. Terganggunya aktivitas
  6. Mempercepat laju perubahan iklim
  7. Hilangnya keanekaragaman hayati

Dan ujungnya kita manusia-lah yang akan dirugikan.

Bukankah mencintai tak selalu harus karena memiliki?

Kita memang tak memiliki lahan gambut secara pribadi namun kita tetap bisa mencintainya agar terus lestari. Dengan itu artinya kita telah turut berkontribusi menyelamatkan Bumi.

Cara manusia menunjukkan rasa cinta terhadap sesuatu tentu saja beragam. Ada yang menunjukkan dengan cara perhatian, peduli, melindungi, keinginan untuk memiliki, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana cara kita mencintai lahan gambut meski tidak memiliki?

  1. Sebarkan terus awareness tentang pentingnya lahan gambut
  2. Konsisten menyuarakan isu perlindungan lahan gambut
  3. Mendorong komitmen Pemerintah agar serius dalam pengelolaan dan perlindungan lahan gambut.

Butuh waktu ribuan tahun untuk membentuk gambut, namun hanya sesaat untuk merusaknya.

#Peatlandisnotwasteland

Cinta tak selamanya harus memiliki dan mencintai tidak harus selalu karena memiliki. Rasa cinta akan terus mengalir dengan sepenuh hati karena rasa peduli akan masa depan generasi setelah ini. Mungkin cara kita mencintai adalah dengan melindungi. Yuk, bersama lindungi lahan gambut. Lahan gambut terlindungi maka fauna didalamnya akan lestari.

#UntukmuBumiku #IndonesiaBikinBangga

Untuk Apapun dalam Hidup, Tuhan Tak Pernah Gagal

Mazmur 119:116
"Topanglah aku sesuai dengan janji-Mu, supaya aku hidup, dan janganlah membuat aku malu dalam pengharapanku"

“Duh, sayang kali kau keluar dari sana”

“Kenapalah kau tinggalkan pekerjaanmu itu, udah enak pun kau di sana.”

Masih banyak ucapan, pandangan, dan pendapat lain yang kuterima saat aku memutuskan resign dari pekerjaanku tahun 2019 lalu. Jujur saja di tempat itu aku banyak mendapatkan hal baru, pengajaran, dan pengalaman yang sangat membantuku dalam mengembangkan kemampuan dan bakat dalam diriku. Dan aku bersyukur untuk semua itu. Bersyukur Tuhan tempatkan aku di sana dan bertemu serta menerima banyak kebaikan di tempat itu.

Sebelum memutuskan resign berulang kali aku bertanya. Bertanya pada Tuhan tepatkah keputusan ini. Sepanjang 2018 aku bergumul hingga akhirnya bulatlah keputusan itu di Juni 2019.

“Sudah dapat kerjaan baru, ya?”

Pertanyaan pertama yang kuterima saat resign ku ajukan. Dan saat itu aku katakan belum. Karena memang aku belum punya pijakan meski saat itu aku sudah tahu kemana akan melangkah.

Aku juga mendengar bisik-bisik keraguan dari orang-orang sekitar. Kata-kata yang tidak enak didengar. Sebuah keraguan dari mereka tentang langkahku selanjutnya. Sempat merasa sakit hati dengan omongan mereka, tetapi setelah aku pikir-pikir rasanya tidak ada alasan bagiku untuk merasa sakit hati. Sebaliknya harusnya aku bersyukur karena orang-orang itu tanpa sadar memercikan api semangat dalam diriku. Aku patut bersyukur karena masih ada orang yang begitu peduli dengan masa depanku. Dan keraguan mereka menjadi pijakan untuk aku melangkah ke depan.

Dan apa yang terjadi?

Aku berjanji pada diriku tidak akan pernah membiarkan keraguan mereka menjadi kenyataan. Dan dalam perjuangan aku bersikeras tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Aku percaya pada janji-Nya. Aku percaya kalau aku meletakkan pengharapan di tempat yang tepat. Tempat yang tidak akan pernah mengecewakan, tempat yang sangat sempurna untuk menuliskan harapan. Dan Ia tidak ingkar.

Di tempat yang baru, di kota yang baru, aku dipertemukan dengan kebaikan yang baru. Tuhan tidak berdusta. Dia tidak lalai menepati janjiNya dalam hidupku. Dia tidak membuatku malu dalam pengharapanku. Aku dianugerahi banyak kebaikan. Dan Ia (Allah) menopangku dalam keputusan yang aku ambil.

Apa yang ingin aku sampaikan lewat ini pada kalian yang menyempatkan membaca tulisanku ini.

1. Selalu Ada yang Terbaik

Tak bisa dipungkiri kalau dalam hidup ada masa dimana kita harus melepas. Melepaskan hal yang selama ini membuat kita nyaman. Entah untuk alasan apapun itu. Namun percayalah bahwa saat kita diminta untuk melepaskan yang kita miliki saat ini selalu ada yang terbaik menghampiri setelahnya.

2. Allah Menopang

Hal yang selalu kuyakini dalam hidup adalah apapun yang kualami entah itu buruk atau baik, aku meyakini kalau semuanya itu menghantarkanku pada rancangan Allah yang dituliskannya untukku. Jika gagal menghampiri aku meyakini kalau itu adalah cara Allah menopangku. Jika kehilangan yang kualami, aku belajar meyakini kalau itu adalah jalannya Allah memimpinku untuk mengerti dan melihat jalanNya. Tiap waktu, tiap keadaan, Allah menopang.

3. Tak Dipermalukan

“Setelah ini bagaimana hidupku?” Aku masih punya pertanyaan ini dalam hatiku setelah resign kala itu. Apakah aku masih dilanda rasa takut dan khawatir? Tentu saja, iya. Aku hanya bisa menerka dan menebak-nebak sambil terus menumpuk banyak harapan dalam doa. Hingga akhirnya rasa takut dan khawatir itu sirna saat aku menemukan nats di atas, Mazmur 119:116. Aku percaya Allah tidak akan mempermalukan, Allah akan menepati janjiNya dalam hidupku. Ayat itu sungguh sangat menolongku tetap berpengharapan hingga aku mendapatkan apa yang kucari, hingga Allah menjawab doaku. Aku mendapatkan pekerjaan baru dan menikmati berlimpah kebaikan yang menyusul.

Mungkin saat ini keraguan melanda hatimu. Atau barangkali engkau sedang bergumul dalam hidup. Tentang apapun itu, percayalah bahwa Allah memakai segala keadaan untuk menolongmu, termasuk dalam keadaan buruk, rasa sakit, khawatir, kehilangan, doa yang tak kunjung dijawab, atau bahkan kegagalan dalam hidup. Imani bahwa Allah tak pernah gagal. Semoga Mazmur 119:116 menguatkan kamu yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Nyalakan pengharapan dalam Tuhan karena Ia (Allah) yang tak pernah gagal.

God bless 😊

Jangan Lalai! Gerahmu, Gerahku, Kita Sejukkan Bersama.

Dokumen pribadi ruangberbagikisah

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menjadi bencana tahunan yang sejujurnya membuat gerah karenanya masih harus terus diperhatikan. Pasalnya jika karhutla terus terjadi setiap tahun maka dapat dipastikan generasi mendatang tidak akan mengenal yang namanya hutan dan dalam waktu mendatang kita akan hidup dalam berbagai masalah yang lahir akibat karhutla itu sendiri. Seperti tanah longsor dan banjir bandang misalnya. Saat menuju ke Samosir beberapa waktu lalu, perjalanan saya dan suami sedikit terganggu karena dibeberapa titik ada perbaikan jalan karena longsor.

Selain itu masih segar diingatan saya bagaimana tebalnya asap yang menyelimuti langit Pekanbaru, Riau, tahun 2019 lalu. Waktu itu saya mengajar di salah satu sekolah swasta di Pekanbaru. Bukan hal yang baru. Bencana Asap di provinsi ini terjadi hampir di setiap tahun. Asap itu muncul akibat karhutla dan melumpuhkan aktivitas masyarakat termasuk kegiatan belajar mengajar kala itu. Sekolah terpaksa diliburkan karena kondisi udara yang tidak sehat. Memakai masker juga tidak begitu membantu malah semakin menambah sesak. Dan karena terjadi setiap tahun maka sekolah telah memiliki strategi untuk menghadapi bencana asap akibat karhutla ini. Sebuah agenda yang berisikan rencana pembelajaran agar siswa tidak ketinggalan banyak dalam pembelajaran karena perbuatan manusia yang tidak bertanggungjawab. Satu hal tercetus dari dalam diri saya : “Jika sekolah mampu menyusun strategi untuk menghadapi bencana asap (belajar dari masa lalu karena terjadi tiap tahun), bukankah seharusnya ada strategi agar karhutla dapat ditangani sehingga tidak terulang kembali?

Data Berbicara

Nyatanya, meski terjadi setiap tahun tak lantas membuat karhutla dapat teratasi dengan maksimal. Bahkan ada kebakaran yang terjadi secara berulang di titik yang sama dan ada beberapa kebakaran ditemukan terjadi di titik yang baru pula. Kita dapat melihat datanya dalam gambar berikut.

Sumber : Auriga Nusantara

Bahkan data yang memberikan informasi mengenai titik-titik api di beberapa daerah juga tidak mampu menolong untuk menyusun strategi demi mencegah agar karhutla tidak terjadi lagi. Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Kalimantan Selatan, NTT, Riau, menjadi provinsi api dengan luas kebakaran kumulatif tertinggi dari tahun 2015-2020 disusul dengan provinsi lainnya. Ini artinya setiap tahun di provinsi ini terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan entah itu kebakaran berulang atau kebakaran baru.

Sumber : Auriga Nusantara

Upaya pencegahan karhutla ini masih tergolong gagal karena masih saja terjadi hingga sekarang. Padahal sudah ada pemberlakuan tindakan hukum untuk setiap pelaku karhutla. Namun nyatanya di lapangan, kebakaran masih terus terjadi. Hal ini nyata terlihat karena setiap tahun kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi. Setiap tahun kita kehilangan hutan dan setiap tahun karena karhutla kita menyumbangkan emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Sumber : Auriga Nusantara
Sumber : Auriga Nusantara

Apa yang Menyebabkan Karhutla Terjadi?

Ahhh, saya merasa pertanyaan di atas terlalu klise ya… 😁 Tapi tak mengapa, mungkin kita perlu berpura-pura dalam hal ini tapi mudah-mudahan tidak dalam perahu (yang sama).

Ada dua faktor yang menjadi penyebabnya, alam dan manusia. Karhutla yang disebabkan oleh alam misalnya karena petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Sedangkan yang disebabkan oleh manusia yaitu, praktek pembukaan lahan dengan cara membakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, dan aktivitas lain seperti membuang puntung rokok sembarangan, tidak mematikan api unggun setelah berkemah, dan kelalaian lainnya. Kelalaian terlihat sepele namun sangat besar dampaknya.

Jika karhutla terjadi karena faktor alam mungkin kita tidak terlalu ‘gerah’ karena kita tidak punya cukup besar kuasa untuk mengendalikan alam. Namun jika karhutla terjadi karena ulah manusia maka ini ‘gerah’ kita bersama. Kita punya cukup besar kuasa untuk ‘menyejukkannya’.

Dampak Karhutla

Karhutla membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan makhluk hidup di Bumi. Lagi-lagi dampak ini membuat ‘gerah’ baik di masa kini maupun di masa depan.

1. Biodiversitas

Kebakaran hutan dan lahan merenggut habitat dan memusnahkan populasi tumbuhan dan satwa liar. Dari dalam hutan kita bisa menikmati beragam hasil hutan yang dapat mendukung kelangsungan hidup. Namun Karhutla merenggut semuanya itu. Bahkan satwa harus kehilangan habitatnya dan masuk ke permukiman manusia, membawa virus dan menularkannya kepada manusia.

2. Kesehatan, Pendidikan, Transportasi

Terang saja karhutla sangat mempengaruhi kesehatan. Bagaimana tidak, asap yang muncul akibat kebakaran itu menelan habis udara segar yang ada sehingga menyebabkan manusia kesulitan bernapas dan mengalami ISPA. Sekolah juga terpaksa diliburkan karena bencana kabut asap. Pengalaman belajar siswa bersama guru dan teman-temannya direnggut oleh kabut asap. Sama halnya dengan transportasi. Kabut asap yang tebal mengganggu penglihatan. Karenanya transportasi pun turut terganggu bahkan tak jarang kecelakaan lalu lintas terjadi akibat kabut asap ini.

3. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Apakah akhir-akhir ini suhu Bumi terasa sangat panas walau sudah malam? Jika jawabannya ‘ya’ berarti saya tidak sendirian. Saya merasa sangat gerah belakangan ini, tak peduli itu siang atau malam. Bahkan beberapa hari lalu saya dan suami melakukan perjalanan ke luar kota dan kami sepakat kalau suhu di kota itu dan tempat kami tinggal sama panasnya. Hanya saja sesekali kami bisa merasakan segarnya udara dari pepohonan yang ada disekitar.

Mungkinkah ini pertanda dari pemanasan global dan perubahan iklim? Ya, itu mungkin. Karena karhutla melepaskan emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi. Jika hal ini terus terjadi maka es di kutub akan mencair dan kemungkinan terjadi banjir besar tidak akan terelakkan lagi. Tidak hanya itu saja, perubahan iklim yang ekstrim akan menciptakan bencana lainnya yang mengancam keselamatan umat manusia, seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, dan yang lainnya.

4. Kerugian Materi

Negara juga mengalami kerugian besar akibat karhutla ini. Sepanjang 2019 kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar Rp.72,95 triliun (data diambil dari Auriga Nusantara)

Apa yang Harus Aku Lakukan?

Adakah peran yang bisa kita ambil untuk turut berkontribusi terhadap pencegahan karhutla ini? Tentu saja ada, dan harus. Kita harus segera bertindak untuk menyejukkan ‘gerah’ ini bersama.

Beberapa waktu lalu, tepatnya hari Jumat (04 Juni). Kami para #EcoBloggerSquad #EBS2021 mengikuti blogger gathering dengan tema “cegah karhutla, cegah pandemi”. Dalam gathering ini kami berdiskusi dengan narasumber kece yaitu kak Dedy P Sukmara dari Auriga Nusantara dan kak dr. Alvi Muldani dari Yayasan Alam Sehat Lestari.

Saya mengikuti acara gathering ini saat sedang di luar kota bersama suami. Sehari setelah acara gathering ini kami mendaki bukit. Cuaca sangat cerah (dan sangat panas) 😅 tapi kami tetap semangat mendaki (entah demi apa😂) setelah naik baru saya paham alasan semangat mendaki saya selain karena penasaran, saya sangat terpesona dengan keindahan alam yang ada. Bahkan di perjalanan dari hotel menuju bukit kami melewati hutan dengan satwa liar yang masih banyak di dalamnya. Juga masih banyak pepohonan yang tumbuh dan berdiri dengan gagahnya. Relakah saya jika suatu hari nanti tidak bisa melihat pohon gagah itu lagi? Tentu saja tidak!

Kak Dedy P Sukmara
dr. Alvi Muldani

Baiklah kita kembali ke gathering 😁Izinkan saya berbagi pengalaman gathering saya tentang tema itu bersama dua narasumber dan teman-teman ECO Blogger Squad lainnya. Lebih tepatnya sih melanjutkan, ya, karena penjelasan yang diatas itu mencakup seluruh informasi yang saya dapat dari gathering juga 😅

Pandemi yang terjadi saat ini juga tak terlepas dari adanya pengaruh yang disebabkan karhutla. Penyebabnya adalah karhutla membuat satwa liar harus kehilangan habitatnya dan pada akhirnya memaksa mereka menemukan habitat baru dan masuk ke permukiman penduduk. Kedekatan manusia dengan hewan disertai dengan perubahan lingkungan inilah yang menyebabkan penyakit zoonosis. Tentu kita sudah mendengar isu bahwa pandemi yang masih terjadi hingga sekarang ini disebabkan oleh virus yang dibawa oleh hewan. Kabarnya hewan itu adalah kelelawar.

Berdasarkan presentasi dr. Alvi saat itu, ia menyatakan bahwa pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dalam beberapa ribu tahun, namun tidak menyebabkan penyakit.

Lantas bagaimana bisa terjadi dan menyebabkan kematian? Hal ini dipengaruhi oleh faktor lainnya yaitu kontak langsung makhluk liar dengan manusia. Entah itu kontak dengan cara domestikasi, atau karena habitat hewan liar terganggu, dan perdagangan hewan liar. Lalu kemudian penyebarannya dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi, dan perubahan iklim.

Lantas apa kaitannya pandemi dengan karhutla?

karhutla menyebabkan satwa liar kehilangan habitatnya sehingga mereka terpaksa keluar untuk menemukan tempat tinggal yang baru. Akhirnya mereka masuk ke permukiman penduduk. Hewan liar tersebut membawa virus dalam dirinya dan menularkannya kepada manusia lewat interaksi, dan udara. Kebakaran hutan dan lahan juga memicu terjadinya perubahan iklim karena emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Dan perubahan iklim merupakan salah satu faktor mempercepat penyebaran virus yang dibawa oleh hewan liar tersebut. Ini berarti dengan mencegah karhutla kita juga bisa mencegah pandemi.

Ayo bersama kita bergerak untuk menyejukkan ‘gerah’ akibat karhutla yang masih terus terjadi di Indonesia. Apalagi saat ini suhu Bumi yang sangat panas bisa menyebabkan munculnya titik-titik api di daerah hutan maupun lahan gambut. Jangan sampai karhutla terjadi di tengah-tengah kita masih berperang melawan covid. Tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika kabut asap akibat karhutla terjadi bersamaan dengan situasi covid seperti sekarang ini.

Apa yang bisa kita lakukan?

Untuk yang tinggal di daerah hutan dan lahan gambut bisa saling mengingatkan untuk tetap saling mengamati titik-titik api yang biasa terjadi sebelumnya dan tetap mengawasi pihak-pihak ‘nakal’ agar tidak melakukan aksinya dan jika melihatnya segera melaporkannya. Dan yang paling utama jangan pernah lalai dengan sembarang membuang puntung rokok dan selalu padamkan api unggun setelah selesai.

Untuk kita yang jauh dari hutan bisa turut berkontribusi dengan cara adopsi pohon untuk mengembalikan hutan yang gundul sehingga perlahan cara ini bisa menyejukkan ‘gerah’ dengan kembalinya fungsi hutan seutuhnya, atau dengan tidak membeli produk dari perusahaan ‘nakal’ yang bahan bakunya dari hutan namun cara mengambilnya dengan merusak hutan. Opsi kontribusi ini dicetuskan oleh kak Dedy saat gathering waktu itu. Saya setuju dengan opsi ini. Artinya dengan kita mulai bijak memilih produk dan tidak memakai produk hasil dari perusahaan ‘nakal’ yang merusak hutan kita sedang melakukan langkah kecil untuk menyejukkan ‘gerah’ yang diciptakan oleh mereka. Jika kita masih memakai produk mereka, artinya kita mendukung perbuatan ‘nakal’ mereka. Bagaimana caranya agar kita tahu itu produk dari perusahaan ‘nakal’? Ya dengan membaca label dan mencari tahu informasi tentang perusahaan tersebut dengan searching mbak google. Wah, agak ribet, nih? Iya memang, tapi dengan langkah kecil itu kita bisa berkontribusi untuk menjaga hutan dan Bumi.

Jangan bersedia lalai. Suhu Bumi akan semakin meningkat seiring terjadi karhutla. Tentu saja keadaan ini akan membawa kita pada masalah yang lebih besar. Kita harus segera mencegah agar karhutla tidak terjadi lagi dan perlahan mengambil langkah untuk mengembalikan fungsi hutan yang merupakan AC-nya Bumi. Sehingga pemanasan global dan perubahan iklim dapat dicegah dan ‘gerah’ ini kita sejukkan bersama.

Jangan lalai! Gerahmu, gerahku, kita sejukkan bersama.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat 😊. Sampai bertemu di tulisan berikutnya, ya. Oh ya, jika kalian ingin mendapat informasi tentang adopsi bibit pohon bisa langsung cek Ig-nya @alamsehatlestari , ya. Dan agar informasi tentang karhutla tetap update, kamu boleh follow akun @auriga_id.

Salam sehat.

#UntukmuBumiku

Hutan : Kebaikan yang Kerap Dicurangi

Sejak awal tahun 2021, masih dalam situasi Covid-19, ada banyak bencana terjadi di negeri ini. Seperti tanah longsor di Sumedang, Jawa Barat, banjir di Kalimantan Selatan, gempa di Sulawesi Barat, banjir dan tanah longsor di Manado, Sulawesi Selatan, serta yang baru-baru terjadi saat ini adalah banjir bandang dan tanah longsor di NTT dan NTB. Peristiwa yang terjadi ini mungkin membuat kita bertanya-tanya atau bahkan sempat berpikir kalau-kalau Tuhan sedang berlaku tidak adil terhadap kita. Sebabnya kita harus menghadapi kenyataan pahit ditengah kepahitan yang bahkan masih sangat terasa akibat pandemi yang entah kapan akan berakhir ini.  Alih-alih berpikir yang tidak-tidak, barangkali kita bisa menjadikan peristiwa yang terjadi belakangan ini sebagai alasan untuk bertanya pada diri sendiri dan mulai kembali berbenah.

dokpri

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti ECO Blogger Gathering bersama dengan #EcoBloggerSquad #EBS2021. Saat itu kami banyak membahas perihal hutan dan dampaknya bagi kehidupan. Ditambah lagi isu perubahan iklim serta kaitannya dengan bencana yang terjadi belakangan ini bahkan prediksi masalah-masalah lain yang mungkin akan terjadi di masa depan jika kita tidak aware terhadap lingkungan sejak sekarang.

Mas Yuyun, salah satu narasumber dalam gathering ini menjelaskan bahwa, 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometereologi yang terkait langsung dengan perubahan iklim. Bencana hidrometeorologi artinya bencana yang terjadi akibat aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, temperatur, curah hujan, angin serta kelembapan. Bentuk bencananya adalah kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, dan angin puting beliung. Dan semuanya ini disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Jika kita tidak segera berbenah maka bencana hidrometeorologi akan terus menghantui dan mengancam keselamatan kita.

Mari kita lebih dekat dengan data.

Pada gambar dipaparkan dengan jelas bagaimana perubahan suhu di Indonesia sejak tahun 1901 hingga 2018.  Lalu, apa dampak dari pemanasan global dan jika suhu Bumi kedepannya mencapai 1,5?

Menurut IPCC, pemanasan global akibat ulah manusia telah mencapai 1 derajat Celcius pada tahun 2017. Jika emisi global terus meningkat  dengan kecepatan yang seperti sekarang ini, maka akan dipastikan pada sekitar tahun 2040 pemanasan global akan melewati batas 1,5 derajat Celcius. naiknya suhu hingga 1,5 akan mengakibatkan musnahnya pulau-pulau kecil, dan ekosistem laut akan mencapai titik tritisnya dan tidak dapat dipulihkan lagi. Tak hanya sampai di situ, masalah lainnya juga akan menyusul seperti kelangkaan air, kegagalan panen/kekurangan pangan, masalah kesehatan, juga bencana alam yang akan mengancam keselamatan umat manusia.

Terkadang jika harus berkata jujur, bencana yang terjadi belakangan ini sesungguhnya adalah karena perbuatan kita sendiri. Betapa kita sangat sulit menghargai sebuah kebaikan. Karena nyatanya kita lebih cenderung mencurangi kebaikan yang telah kita terima. Lalu saat hal tidak baik menimpa, dengan mudahnya kita menyalahkan sekitar yang kebaikannya selama ini telah kita curangi. Salah satunya hutan. Tak dapat dipungkiri bahwa kenyataannya hutan memiliki banyak kebaikan bagi kehidupan namun manusia justru mencurangi kebaikan itu dengan melakukan deforestasi, pembakaran hutan dan hal lainnya yang merusak kelestarian hutan.

Berikut beberapa kebaikan hutan bagi kehidupan umat di Bumi

Hutan Penyuplai Oksigen

Kita tentu sudah tahu bahwa hutan merupakan penghasil oksigen yang kita butuhkan untuk bernapas. Hutan menyerap karbondioksida yang kita keluarkan (baik ketika kita bernapas maupun dari kegiatan sehari-hari) sekaligus juga menjadi sumber utama kualitas udara yang baik. Berkat pepohonan di hutan, kita masih bisa menikmati yang namanya udara segar untuk bernapas. Namun kebaikan ini kita curangi dengan melakukan penebangan pohon di hutan tanpa berniat menanamnya kembali.

Hutan AC-nya Bumi

Kemampuan hutan menyerap karbon dioksida dapat membantu mengurangi pemanasan global. Hal ini sangat membantu dalam menjaga suhu Bumi agar tidak mengalami peningkatan yang begitu ekstrem. Kehadiran hutan sangat membantu dalam menekan peningkatan suhu Bumi sehingga ancaman krisis iklim dapat dihindari. Hutan adalah AC-nya Bumi. Kehadiran hutan dapat mendinginkan Bumi yang suhunya dari tahun ke tahun semakin panas akibat ulah manusia. Namun di lapangan, kita sangat memandang rendah hutan. Kita bersikap biasa saja saat mengetahui tiap tahunnya kita kehilangan hutan karena deforestasi dan kebakaran hutan. Padahal hutan adalah opsi mitigasi untuk menghentikan krisis iklim.

Hutan Mencegah Banjir

Pepohonan di dalam hutan membantu dalam penyerapan air sehingga dapat mencegah terjadinya kebanjiran. Selain itu juga dapat mencegah terjadinya bencana tanah longsor.  Selain itu hutan menyediakan air bagi kita bila nanti musim kemarau tiba. Artinya dengan tetap menjaga kelestarian hutan kita sedang melakukan mitigasi terhadap ancaman bencana alam seperti yang belakangan kerap terjadi.

Hutan Sumber Makanan

Dari hutan terdapat banyak sumber makanan untuk makhluk hidup. Pepohonan menghasilkan buah-buahan, terdapat aneka tanaman kacang-kacangan, biji-bijian, dan lain sebagainya untuk dinikmati oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Bahkan masyarakat sekitar hutan juga menggantungkan hidupnya dengan mengandalkan hasil hutan. Dengan menjaga hutan artinya kita mencegah terjadinya krisis pangan sebab hutan menyediakan pasokan makanan yang kita butuhkan.

Dan masih ada banyak manfaat hutan yang lainnya yang mungkin sudah kita nikmati selama ini. Lalu dari semua kebaikan yang diberikan itu, mengapa kita bersikap seperti tidak peduli terhadap kelestarian hutan itu sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa membalas kebaikan itu dengan bersikap seenaknya saja? Lalu kita dengan mudah menyalahkan Bumi sudah tak lagi sehat saat bencana silih ganti datang menerpa. Mari kita mulai mencintai Bumi tempat kita tinggal ini dengan cara melestarikan hutan yang adalah jawaban dari tiap permasalahan yang belakangan ini kita alami.

Melestarikan hutan artinya kita sedang turut berkontribusi untuk menghentikan krisis iklim yang sedang mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di Bumi. Melestarikan hutan artinya kita kembali mencintai Bumi dan peduli terhadap keselamatan kita sebagai penghuni Bumi. Jika kita mencintai Bumi maka Bumi juga akan membalas cinta kita kembali dengan kebaikan-kebaikan untuk mendukung kehidupan kita.

Hutan memberikan kita kehidupan dengan menghasilkan oksigen untuk kita bernapas, menyerap air agar kita tidak tenggelam saat hujan lebat mengguyur dalam waktu lama dan memberikan cadangan air saat musim kemarau tiba, membantu menyerap karbon dioksida agar kita terhindar dari ancaman krisis iklim, dan menyediakan pasokan makanan agar kita bisa bertahan dan melanjutkan hidup dengan memanfaatkan hasil hutan tersebut. Dan semua ini adalah kebaikan, bukan?

Photo by Matthis Volquardsen on Pexels.com

Namun yang terjadi adalah kita telah mencurangi kebaikan-kebaikan ini dengan menebang pohon di hutan tanpa melakukan penanaman kembali, membuka lahan dengan cara membakar hutan sehingga memicu pemanasan global, mengambil hasil hutan tanpa berniat melestarikan kembali, dan banyak kecurangan lainnya. Kita membalas kebaikan hutan dengan sikap curang dan pada akhirnya kita sendirilah yang menerima buah dari perbuatan kita itu yaitu bencana alam yang terjadi belakangan ini.

Sebentar lagi, tepatnya 22 April kita akan merayakan hari Bumi. Mari kita pakai waktu ini untuk mendekatkan hutan dan menumbuhkan cinta dengan berkampanye agar semakin banyak orang turut serta menjaga hutan, bercerita dari hutan, melakukan adopsi pohon, menciptakan produk hutan non kayu, serta jalan-jalan ke hutan. Ada banyak hal yang hutan berikan kepada kita oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk membalas kebaikan itu dengan melestarikan hutan. Melindungi hutan dipercaya merupakan mitigasi perubahan iklim yang paling murah. Jika kita bergotong royong maka kita dapat menyelamatkan Bumi dan mewariskan Bumi yang sehat kepada generasi berikutnya. Merayakan hari Bumi bukan tentang keselamatan Bumi melainkan misi menyelamatkan manusia dari jerat yang dipasang oleh manusia itu sendiri. Saatnya kita mengucapkan terima kasih pada Bumi dengan melindungi hutan agar dampak dari krisis iklim dapat dihindari.

Waspada Krisis Iklim! 4 Hal Ini Buktikan Kalau Kamu Cinta Bumi

Pixabay.com

Bumi diciptakan dengan amat sangat baik oleh Allah. Dengan segala kekayaan dan kelimpahan didalamnya untuk mendukung kelangsungan hidup manusia. Kenikmatan akan kelimpahan membutakan manusia hingga mengancam keutuhan Bumi yang pada akhirnya justru mencelakakan manusia itu sendiri.

Bencana alam, kebakaran hutan, dan virus Covid-19 yang sedang terjadi merupakan akibat yang muncul dari ketamakan manusia itu sendiri. Keinginan untuk terus mengeksploitasi tanpa pernah berpikir untuk melestarikannya kembali. Jika begini, siapa yang paling dirugikan? Tak lain adalah manusia itu sendiri.

Bersama kita mengetahui bahwa hutan adalah paru-paru dunia. Selain itu, hutan juga merupakan habitat flora dan fauna, juga berbagai tanaman yang merupakan sumber makanan serta obat-obatan. Kehadiran hutan juga yang membantu mencegah terjadinya erosi dan banjir. Akan tetapi semua fungsi tersebut tak lantas menjadikan hutan sebagai sebuah harta yang pantas untuk dijaga. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebakaran hutan masih sering terjadi khususnya hutan di Indonesia.

sumber : website golongan hutan

Jumat lalu, tepatnya 8 Januari 2021, saya mengikuti blogger gathering. Gathering ini membahas perihal peran pemuda untuk Indonesia sebagai bukti cinta terhadap Indonesia. Gathering yang dipandu oleh Kak Fransiska Soraya ini dan dibarengi dengan kehadiran narasumber kece tentunya yaitu, Bang Edo Rakhman selaku koordinator golongan hutan, Kak Anindya Kusuma Putri, Aktris dan seorang Influencer, juga seorang mahasiswi cantik yang berasal dari komunitas jeda untuk iklim, Syaharani, membahas banyak hal tentang mengapa kita sebagai pemuda harus bergerak untuk menjaga hutan, dan mulai peduli terhadap lingkungan.

Kita Butuh Pemimpin yang Adil

Pemimpin kita saat ini bekerja untuk memajukan negeri ini. Pertumbuhan ekonomi menjadi sorotan utama. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal ini. Akan tetapi, kita hidup bukan untuk hari ini saja melainkan untuk masa depan. Jika pertumbuhan ekonomi yang kita utamakan menjadi alasan untuk eksploitasi besar-besaran, lantas bagaimana kehidupan generasi mendatang?

“Menjadi pemimpin itu ya harus bisa adil. Adil bukan hanya pada generasi sekarang tetapi juga pada generasi mendatang” ujar Bang Edo Rakhman, koordinator golongan hutan, pada saat gathering online, Jumat lalu.

Mengingat peristiwa kebakaran hutan di Indonesia yang sudah menjadi bencana tahunan. Jika dibiarkan secara terus-menerus dan anak muda tidak turut angkat suara dan enggan untuk mulai ambil bagian, maka anak cucu di kehidupan mendatang tidak akan pernah merasakan langsung kebaikan dan kekayaan hutan. Dan betapa sulit untuk dibayangkan bagaimana kehidupan generasi mendatang jika hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia itu akan sekadar tinggal kenangan. Bersyukur sekali bahwa pemuda Indonesia mulai angkat suara dan ambil bagian sebagai wujud kepedulian dan cinta terhadap Indonesia.

Saat ini kita sudah mulai merasakan dampak dari kebakaran hutan. Hewan yang habitat aslinya di hutan kini keluar menuju pemukiman manusia dan menularkan penyakit kepada manusia. Salah satunya adalah virus dari kelelawar yang meluluhlantakkan kehidupan manusia belakangan ini, virus Covid-19. Sebagai pemuda Indonesia sudah selayaknya kita bersuara agar pemangku kepentingan bisa juga adil untuk memikirkan masa depan generasi yang akan datang.

Menikmati Sambil Menjaga

Kak Anin saat mengeksplor keindahan alam Indonesia

“Alam mendukung umat manusia untuk melanjutkan kehidupannya seperti menyediakan air, udara, dan sumber pangan. Sebab itu, sudah seharusnya kita menurunkan ego dan lebih peduli untuk menjaga lingkungan” ujar Kak Anindya Kusuma Putri yang juga merupakan salah satu narasumber pada acara gathering tersebut.

Sebagai seorang aktris dan juga influencer yang sudah banyak mengunjungi tempat wisata alam, ia sangat kagum pada keindahan alam Indonesia yang sangat disayangkan bila tidak dilestarikan. Ia juga mengatakan bahwa saat melakukan petualangan di hutan, alam banyak sekali membantu mereka seperti menyediakan air bersih yang bisa langsung di konsumsi, buah-buahan hutan (karena gak banyak bawa persediaan makanan), obat-obatan dari alam, dan tentunya udara bersih nan segar yang tidak lagi ditemukan di perkotaan.

Ia juga mengatakan agar tidak pernah merusak lingkungan alam saat sedang berwisata seperti mandi memakai sabun di alam terbuka, juga membuang sampah sembarang. Ini hal yang kelihatannya sepele namun justru sangat merusak lingkungan. Ia juga sempat terlihat agak kesal sambil menceritakan terhambatnya perjalanannya di laut karena banyaknya sampai plastik di laut. “Ternyata di laut bisa juga macet. Tapi, sayangnya karena sampah” ujarnya dengan raut sedikit kecewa.

“Selain tidak ikut melakukan hal yang bisa merusak alam, sebagai anak muda kita juga harus berani mengingatkan bahkan menegur orang-orang yang hendak merusak alam” pesannya saat itu.

Sebab usaha untuk menjaga lingkungan tentu saja tidak bisa dilakukan sendiri. Ini adalah upaya kita bersama-sama. Saling bergotongroyong, saling mengingatkan dan tentu saja memberi teladan. Pastinya semua harus berawal dari diri sendiri.

Waspada Krisis Iklim

Seorang mahasiswi cantik dari komunitas jeda untuk iklim juga memberikan presentasinya mengenai krisis iklim. Bagaimana dampak dari krisis iklim terhadap kehidupan manusia kelak.

Syaharani ketika menjelaskan tentang krisis iklim. Dokumentasi Pribadi

“Penyumbang terbesarnya memang adalah korporasi, tetapi sebagai masyarakat kita juga bisa melakukan hal-hal kecil untuk meminimalisir” ujarnya saat menjelaskan betapa pentingnya kita untuk mulai sadar aktivitas sehari-hari yang justru memicu meningkatnya suhu Bumi.

Aktivitas kita sehari-hari seperti mobilitas, penggunaan listrik, penggunaan air, dan seberapa rajinnya kita beli pakaian juga memiliki pengaruh besar terhadap perubahan iklim.

Perubahan iklim itu adalah keadaan dimana suhu rata-rata Bumi meningkat dalam jangka waktu yang lama karena gas rumah kaca terjebak di Stratosfer. Perubahan iklim yang ekstrim akan membuat permukaan laut naik sebab suhu yang tinggi mengakibatkan es di Arktik akan mencair. Jika hal ini terjadi maka prediksi Jakarta akan tenggelam tahun 2050 mungkin akan terjadi.

Dampak perubahan iklim ini sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia seperti terancamnya kondisi tempat kita tinggal, ketersediaan pangan, kesehatan, dan keselamatan umat manusia.

Sejak sekarang mari kita lebih waspada dan peduli terhadap lingkungan. Setidaknya sebagai wujud terima kasih pada alam dan sebagai bukti kita adil untuk generasi mendatang.

Wujud Terima Kasihku

Infografis : RuangBerbagiKisah

Menjaga Hutan

Mulai sekarang mari kita nikmati dan tetap melestarikan alam. Hutan memberikan banyak kebaikan untuk mendukung kelangsungan hidup kita. Hutan juga merupakan lemari es yang dapat mendinginkan suhu Bumi dengan menyerap karbon dioksida yang merupakan salah satu penyebab perubahan iklim. Kehadiran hutan akan menolong suhu Bumi tidak semakin panas. Hutan yang terjaga akan menjauhkan kita dari bahaya erosi dan bencana banjir, juga menyimpan air untuk kita gunakan saat musim kemarau melanda.

Meminimalisir Penggunaan Plastik

Sampah plastik hingga kini masih menjadi masalah bagi lingkungan. Mulai sekarang bawa air dan bekal dalam wadah sendiri ketika berpergian, bawa keranjang belanja sendiri, sebisanya untuk tidak sering membeli produk dalam kemasan kecil (sachet-an) sehingga masalah sampah plastik bisa berkurang dari waktu ke waktu.

Menggunakan Angkutan Umum

Agar polusi udara bisa berkurang sebaiknya kita mulai membiasakan diri untuk menggunakan angkutan umum. Jika tempat yang dituju dapat ditempuh dengan berjalan kaki sebaiknya mulailah untuk membiasakan berjalan kaki.

Stop Hidup Boros

Tinggalkan kebiasaan hidup boros seperti menyalakan lampu di siang hari, menyalakan TV tapi tidur, menyalakan keran air sampai air terbuang sia-sia, ubah kebiasaan konsumtif terhadap makanan, ataupun gaya hidup seperti mengikuti trend pakaian salah satunya.

Ternyata baju kita juga membuat suhu Bumi semakin panas. Penyebabnya adalah proses dari produksi baju itu sendiri. Semakin banyak permintaan terhadap produk tersebut maka aktivitas produksi akan terus berlanjut dan suhu bumi akan meningkat seiring dengan berjalannya proses produksi baju tersebut. Jika kita tidak ingin suhu Bumi semakin panas maka mulai sekarang kita tunda dulu mengikuti trend fashion yang sedang berkembang sekarang. Semua ini demi kebaikan kita bersama.

Semua ini sebagai wujud rasa terima kasih kita pada Bumi dan wujud sikap adil kita pada generasi mendatang. Supaya generasi mendatang masih bisa merasakan serunya hiking, menyelam, menikmati segarnya air terjun, melihat langsung keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia seperti yang kita rasakan sekarang.

Lakukan hal kecil untuk dampak yang lebih besar. Bukankah cinta tanpa bukti adalah hal yang sia-sia? Anak muda ini waktunya buktikan kalau kita cinta Indonesia!

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai